Doa dan Kerja Keras Panitia

 

Catatan Produksi October Meeting #1

 

Pada hari pertama penyelenggaraan October Meeting (7/10), para panitia dengan kerjakeras mempersiapkan segala keperluan sejak pagi harinya, mulai dari dekorasi, konsumsi, perlengkapan, kru, susunan acara, tata cahaya, dan tata suara. Iqbal Firdaussalam dan Halida Fisandra sebagai koordinator sudah sibuk menghubungi teman-teman panitia untuk segera datang ke Pendhapa Art Space, melalui grup WA. Satu-persatu panitia berdatangan, juga teman-teman dari Rekambergerak yang dipimpin Gatot Sulistiyanto. Secara profesional, mereka sudah tahu apa yang harus disiapkan untuk karya yang akan tampil, karena data-data atau keperluan sudah diketahui jauh sebelumnya. Seperti input kabel untuk masing-masing instrumen atau alat. Bahkan ketika ada alat yang rusak, dengan sigap segera diperbaiki dan berhasil.

 

Pada sisi lain, panitia lainnya sibuk mengambil alat-alat, seperti piano yang akan

digunakan oleh penampil. Maka ketika penampil datang, mereka hanya mengatur alat-alat

yang digunakan, dan memerintahkan panitia untuk membantu menempatkannya di panggung.

Kuncinya adalah para penampil sudah memberikan denah pementasan dan keperluan meja

yang digunakan. Itu sebabnya, persiapan ketika cek suara berjalan dengan cepat.

Sebelum acara dimulai, para panitia bersama-sama memakan tumpeng sebagai wujud

syukur dan doa untuk kelancaran acara pada malam itu.

 

Menurut Gatot, tumpeng tidak boleh dipotong di ujungnya, namun dipotong di bagian pinggir. “Ini merupakan simbol yang akan mengarahkan harapan kita kepada Tuhan ke atas,” ujarnya.

 

Dengan semangat semua panitia menyantap tumpeng hingga habis. Maka selain kerja keras,

ada sebuah “doa” yang akan membantu kita melakukan segala hal yang di luar kemampuan

manusia. Setelah itu, para panitia bersiap untuk melakukan tugas masing-masing.

Pada usai acara, para panitia berkumpul untuk mambahas acara besok harinya yang

tak kalah penting dan menariknya (ary/amt/foto: Denada).